Latest Event Updates

CARA SEMBUH DARI SAKIT DIABETES

Posted on


Image

Dewasa ini Prevalensi penderita diabetes Tipe 2 di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2010 Indonesia menduduki peringkat ke sembilan.  Penderita Diabetes di Indonesia mencapai 7,6 juta orang. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan ada 12 juta orang penderita Diabetes di Indonesia.

Yang sangat menghawatirkan adalah bergesernya usia penderita diabetes. Saat ini Diabetes sudah mulai menyerang anak-anak usia remaja. Beberapa kasus menunjukkan bahwa anak-anak usia 19-25 tahun sudah mengalami pre diabetes. Gejala pre diabetes itu ditandai dengan intoleransi gula.

Penyebab utama dari bergesernya penderita diabetes ke usia yang lebih muda adalah karena kesalahan pola makan. Remaja saat ini sangat senang mengkonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi. Makanan dengan kadar lemak tinggi biasa didapat dari fast food yang memang menjadi makanan kesukaan mereka. Aktifitas yang kurang, menyebabkan tubuh kurang bergerak. Kalori tinggi yang tersisa dalam tubuh akan diubah menjadi lemak yang akan menyebabkan kegemukan. Kegemukan inilah faktor utama pencetus diabetes.

Bagaimana cara mencegahnya? tentu dibutuhkan atensi orang tua dalam mengedukasi anak-anaknya. Orangtua harus menjadi orang yang cerdas, dalam menyikapi segala perubahan. Termasuk dalam mengawasi asupan makanan anak-anak dan keluarganya. Pilihlah masakan yang sehat, segar, dan mempunyai nilai gizi yang terukur.

Hingga saat ini penyakit diabetes adalah penyakit degeneratif yang tidak bisa disembuhkan dengan teknologi kedokteran biasa. Diabetes muncul karena kerusakan organ Pankreas. Pankreas pada penderita diabetes tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup. Padahal insulin sangat dibutuhkan untuk membantu proses pemecahan gula untuk bisa diserap ke dalam sel-sel tubuh.

Untuk menjaga badan selalu sehat, sangat penting bagi penderita diabetes untuk merubah gaya hidup dan pola makan. Asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh harus dikontrol. Seberapa kebutuhan kalori kita untuk kegiatan sehari-hari, sebanyak itulah kalori yang harus kita masukkan ke dalam tubuh. Dengan begitu tidak akan ada kalori berlebih di dalam tubuh yang berarti kadar gula dalam darah  penderita akan normal.

Tetapi bagi anda, atau kita ataupun anak-anak kita yang telah terlanjur menderita diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, ada harapan baru untuk sembuh dari penyakit yang satu ini. Dengan teknologi kedokteran yang kemajuannya sangat pesat akhir-akhir ini. Beberapa orang dokter di Indonesia sudah mulai melakukan uji klinis terhadap pasien Diabetes dan gagal ginjal dengan metoda implan sel punca.

Apakah sel punca itu? Sel punca atau sel induk dalam bahasa inggris disebut stemcell, adalah sel yang mampu berkembang menjadi sel apa saja dari sel yang ada dalam tubuh manusia ataupun hewan. Sel punca mempunyai kemampuan tumbuh yang luar biasa. Sel itu bisa berkembang menjadi sel otak pada jaringan otak, bisa menjadi sel tulang pada susunan rangka, bisa menjadi otot pada jaringan otot, bisa menjadi darah pada sistim sirkulasi darah dan menjadi apa saja dalam sel-sel tubuh manusia.

Sel punca dibagi menjadi dua macam, sel punca embrio atau disebut embrionic stemcell dan sel punca dewasa atau adult stemcell. Para pakar sel punca dalam negeri mulai memilih sel punca dewasa daripada sel punca embrio karena adanya masalah etika dalam penerapannya.

Salah satu Rumah sakit yang telah mulai mempraktekkan terapi sel punca ini adalah RS PKU Muhammadiyah Solo. Rumah sakit tersebut memiliki seorang dokter Ahli sel punca, yaitu Dr. Indah Yulianto, SpKK (K) PhD.

Biaya untuk menjalani terapi sel punca di Rumah sakit tersebut cukup mahal. Untuk 1 cc sel punca membutuhkan biaya sekitar 3,8 juta. Untuk sekali terapi membutuhkan 2 sampai 3 cc sel punca. Padahal untuk penyakit diabetes membutuhkan 10 sampai 15 kali terapi. anda bisa hitung sendiri berapa biaya yang harus disiapkan untuk terapi ini. Tetapi biaya ini masih sangat murah jika dibandingkan dengan terapi yang sama di Rumah Sakit Guang Zhou dan Beijing.

Bagi anda yang mempunyai cukup dana, saatnya anda mencoba untuk sembuh dari penyakit diabetes. Allah yang telah memberi penyakit, Allah juga yang telah menyediakan obatnya. Kita hanya bisa berusaha dan selanjutnya bertawakkal kepada Allah.

RS PKU Muhammdiyah Solo beralamat di Jl. Ronggowarsito No. 130, Surakarta 57131, Jawa Tengah, telpon: (0271) 714578

Semoga bermanfaat.

Diduga inisial CN atau CHN adalah Dr. Hj. CHAIRUN NISA, MA

Posted on Updated on


Diduga seorang perempuan anggota DPRRI ber inisial CN atau CHN yang ditangkap KPK adalah Dr. Hj. CHAIRUN NISA, MA, anggota DPRRI dari Fraksi Golkar daerah Pemilihan Kalimantan Tengah. Informasi ini didapat setelah mengunjungi situs http://www.dpr.go.id/id/anggota/per-fraksi dari situ didapatkan satu-satunya nama yang cocok dengan inisial CHN adalah Dr. Hj. CHAIRUN NISA, MA yang berasal dari Dapil Kalimantan Tengah yang berarti juga termasuk kabupaten Gunung Mas yang sedang terjadi sengketa Pilkada Bupati. Namun informasi ini masih belum diumumkan secara resmi oleh pihak KPK maupun DPRRI.

CHN ikut digelandang ke Gedung KPK malam hari tadi sekitar jam 22:00 WIB, setelah ditangkap di kediaman Akil Mochtar Ketua MK, ketika sedang menyerahkan uang senilai hampir 3 Milyar dalam bentuk dolar Singapura.

Bupati Gunung Mas Hambit Bintih Kalteng ditangkap KPK karena diduga menyuap Ketua MK

Posted on


Pilkada Kabupaten Gunung Mas menjadi klimaks setelah malam tadi salah satu oknum pasangan incumben Hambit Bintih-Arthon S Dohong (Hamiar) tertangkap tangan ketika mencoba menyuap ketua MK. Kejadian penyuapan itu berlangsung di kediaman AM Ketua MK Jl. Widya Chandra III jakarta Pusat. Di kediaman AM telah ditangkap tiga orang yaitu AM, CHN seorang aperempuan yang diduga Anggota DPRRI dari fraksi Golkar, dan CN seorang pengusaha. Sementara HB (Hambit Bintih) dan DH ditangkap di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat.

Dalam operasi KPK tersebut juga disita uang dalam bentuk dollar Singapura senila hampir 3 Milyar Rupiah

Ketua MK Akil Mochtar ditangkap KPK

Posted on Updated on


Juru Bicara KPK Johan Budi memberikan konferensi pers mengenai penangkapan Ketua MK  berinisial AM (Akil Mochtar) dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan hari Rabu 2 September 2013. Dalam operasi tersebut telah ditangkap 5 orang yang berinisial AM, CHN dan CN ketiganya ditangkap di Komplek Perumahan Menteri Jl Widyachandra III, petugas juga menangkap HB dan DH di sebuah Hotel di kawasan Jakarta Pusat. HB adalah seorang Kepala Daerah sebuah Kabupaten di Kalimantan.

Barang bukti yang turut disita adalah sejumlah uang dalam bentuk dolar Singapura yang diperkirakan berjumlah 2 sampai 3 milyar rupiah

Akil mochtar digelandang ke gedung KPK dengan mobil Avanza silver B 1811 UFU, Akil mengenakan kemeja putih dan di bangku belakang ada dua orang lagi yang juga ikut digelandang ke gedung KPK.

Penangkapan ini terkait dengan kasus sengketa PILKADA di sebuah Kabupaten di Kalimantan. Ke lima orang itu masih dalam status terperiksa, Petugas KPK mempunyai waktu untuk memeriksa ke lima orang tersebut selama 1 x 24 jam.

Beberapa orang rekan wartawan mencoba menelpon ke HP Akil Mochtar tetapi selau direject.

Breaking News : Pejabat Negara Setingkat Menteri inisial AM dan seorang anggota DPRRI dari GOLKAR inisial CN ditangkap KPK

Posted on Updated on


Jakarta Pukul 22:00 WIB hari ini 2 September 2013 Petugas KPK  telah menangkap 5 orang terduga Korupsi, salah satunya adalah Pejabat setingkat Menteri, dari rumor yang beredar berinisial AM atau Akil Mochtar yang merupakan Ketua MK. Dan satu orang adalah seorang perempuan Anggota DPRRI dari Partai Golkar dengan inisial CN. Barang bukti dari operasi tangkap tangan itu adalah uang dengan nilai antara 2 sampai 3 Milyar rupiah.

Juru bicara KPK Johan Budi belum bisa memberikan keterangan rinci mengenai Operasi tangkap tangan tersebut. Johan masih akan mengklarifikasi lebih lanjut tentang 5 orang yang ditangkap oleh petugas KPK dan barang bukti uang dalam operasi KPK tersebut. Johan juga belum bisa memberitahukan ke 5 orang itu tertangkap dalam kasus apa.

Saat ini ke lima orang yang ditangkap KPK telah diamankan di gedung KPK berikut barang bukti uang yang menurut rumor jumlahnya mencapai 2 sampai 3 milyar rupiah dalam bentuk dolar singapura.

Lima  orang yang ditangkap itu berada di lokasi yang berbeda beda, salah satunya ditangkap di komplek menteri Widya Chandra.

Akil diangkat menjadi Ketua MK menggantikan Mahfud MD pada April 2013. Akil menjadi hakim konstitusi pada 2008. Pria kelahiran Putussibau Kalimantan Barat 18 Oktober 1960 ini sebelumnya menjadi anggota DPR dari Fraksi Golkar selama dua periode.

berikut adalah Profil Akil Mochtar
Nama : Dr. H. M. Akil Mochtar, S.H, M.H.
Alamat :
Tempat / Tanggal Lahir : Putussibau (Kal-Bar), 18-10-1960
Agama : Islam
Jabatan : Ketua Mahkamah Konstitusi RI

Masa Jabatan
Tahun 2013 s/d Tahun 2016

Pendidikan :
1. SD Negeri I Putussibau 2. SD Negeri II Putussibau 3. SMP Negeri Putussibau 4. SMP Negeri 2 Singkawang 5. SMP Muhamadiyah Pontianak 6. SMA Muhamadiyah Pontianak 7. S1 Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak 8. S2 Magister Ilmu Hukum universitas Padjajaran Bandung 9. S3 Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran Bandung
Karir :
Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H., sebelum menjabat sebagai Hakim Konstitusi, adalah anggota DPR RI dari Fraksi Golongan Karya. Berikut ini pengalaman pekerjaan bapak Akil Mochtar sampai dengan saat ini: 1. Advokat/pengacara (1984-1999) 2. Anggota DPR/MPR RI Periode 1999-2004 3. Anggota DPR/MPR RI Periode 2004-2009 4. Wakil Ketua Komisi III DPR/MPR RI (bidang Hukum, perundang-undangan, HAM dan Keamanan) Periode 2004-2006 5. Anggota Panitia Ad Hoc I MPR RI 6. Anggota Panitia Ad Hoc II MPR RI 7. Kuasa Hukum DPR RI untuk persidangan di Mahkamah Konstitusi 8. Anggota Tim Kerja Sosialisasi Putusan MPR RI Pengalaman Organisasi: 1. Ketua OSIS SMA Muhamadiyah Pontianak 2. Ketua Ikatan Pelajar Muhamadiyah Pontianak 3. Pelajar Islam Indonesia 4. Ketua Alumni SMA Muhamadiyah Pontianak 5. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Univ. Panca Bhakti Pontianak 6. Komandan Batalyon E Resimen Mahasiswa (Menwa) UPB 7. Ketua Alumni Menwa Kal-Bar 8. Ketua Alumni Universitas Panca Bhakti Pontianak 9. Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Kalbar Tahun 1998-2003 10. Ketua Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Kalimantan Barat 11. Sekretaris Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Cab. Pontianak 12. Anggota Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) DPP Pemuda Pancasila 13. Anggota Majelis Pemuda Indonesia DPP KNPI 14. Pengurus Wilayah Muhamadiyah Kalbar 15. Ketua Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar 16. Anggota Lembaga Hikmah Pengurus Pusat (PP) Muhammaddiyah 17. Ketua Umum Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI) Kalbar Periode 2006-2010 18. Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kalbar 2006-2009 Selama menjadi anggota DPR RI, beliau pernah menjadi: 1. Ketua Pansus RUU Undang-Undang Yayasan 2. Ketua pansus RUU tentang Jabatan Notaris 3. Ketua Pansus RUU Perseroan Terbatas 4. Ketua Panja RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi 5. Ketua Panja Pengesahan Konvensi PBB Anti Korupsi 6. Ketua Panja RUU tentang Pengesahan Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik Dalam Masalah Pidana antara RI dan RRC 7. Ketua Panja RUU tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana 8. Ketua Panja RUU tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama 9. Ketua Panja RUU tentang Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama (Banten, Kepulauan Bangka Belitung, Gorontalo, dan Maluku Utara) 10. Ketua Panja RUU tentang Perlindungan Saksi dan Korban Dan lain-lain Peraturan Perundang-undangan.
Organisasi :
Mahkamah Konstitusi RI

Dahlan Iskan me…

Sampingan Posted on


Dahlan Iskan membangun kerajaan bisnis Jawa Pos dengan kerja keras luar biasa. Bahkan, beberapa kalangan menilai Grup Jawa Pos menggurita karena sikap one man show Dahlan. Toh, kalangan dekatnya justru mengaku banyak melihat keteladanan yang begitu nyata diperlihatkan Dahlan dalam keseharian. Apa saja itu?

 

Dahlan Iskan sudah lama tak berkantor di Graha Pena, Surabaya. Namun, semangat, disiplin, kerja keras, kesederhanaan yang dimiliki Dahlan tertancap kuat di seantero kantor Jawa Pos yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Jejak keberhasilan Dahlan bukan saja terukir dari pencapaian Jawa Pos yang menjelma menjadi konglomerasi bisnis media dengan sekitar 120 media cetak dan 20-an stasiun televisi lokal yang terserak di berbagai wilayah Nusantara, 40 jaringan percetakan, pabrik kertas, power plant, perminyakan, agrisbisnis, dan properti. Dahlan juga mewariskan sebuah keteladanan. Teladan tentang kesederhanaan, kerja keras, dan logika akal sehat sehingga melahirkan budaya bersikap, budaya berpikir, budaya bekerja pada segenap awak Grup Jawa Pos (GJP) sehingga grup usaha ini terbang sangat tinggi.

Di bawah kendali peraih penghargaan Enterpreneur of the Year 2001 dari Ernst & Young yang dilahirkan di Magetan 17 Juli 1951 ini, gurita bisnis GJP merentang seantero Nusantara. Aset GJP ditaksir mencapai triliunan rupiah dengan omset sekitar Rp 2 triliun.

Keberhasilan Dahlan dinilai banyak kalangan karena memiliki keberanian mengambil risiko yang terukur dan kerja keras, serta kepiawaian membaca peluang. Dan, Dahlan konsisten dengan sikapnya. Kini, sebagai komandan PLN, di minggu pertama berkantor di Trunojoyo, ia sudah langsung memperlihatkan taringnya dengan mengganti sumber energi primer dan menyediakan trafo cadangan untuk keperluan distribusi listrik sebagai upaya menghemat beban subsidi sebesar Rp 5 triliun tiap tahun. Ia juga memangkas jalur birokrasi dan membenahi struktur organisasi. Dan, seperti juga di Jawa Pos, ia selalu memberi teladan disiplin waktu dan kesederhanaan. Pukul 6.45 ia sudah tiba di kantor. Rapat direksi pun diubah menjadi pukul 7.00. Ia juga biasa makan di kantin karyawan dan seminggu sekali suntik imunisasi hepatitis B di Poliklinik PLN.

Tak ada yang berubah dari seorang Dahlan. Yang berubah hanya penampilannya. Dulu, sebagai CEO GJP ia kerap terlihat berkemeja panjang gombrong dengan sepatu kets membungkus kakinya. Kini, ia lebih terlihat perlente dengan setelan jas. Bagaimana ia mewariskan wisdom strategi bisnisnya sehingga GJP tetap melaju kencang meski ayah Azrul Ananda dan Isna Fitriana ini tak lagi ikut cawe-cawe? Berikut petikan wawancara SWA dengan Dahlan Iskan:

Bagaimana perasaan Anda meninggalkan Jawa Pos?

Sekarang, posisi saya Chairman Grup Jawa Pos. Benang merah yang harus dipahami oleh seluruh pemimpin di Grup Jawa Pos adalah harus percaya bahwa di setiap zaman itu punya generasinya tersendiri, dan setiap generasi itu punya zamannya tersendiri. Nah, agar bisa lintas generasi alias bisa diterima di setiap generasi, pahamilah hal tersebut lebih dulu dengan sikap mau menerima, berpikiran terbuka, dan fleksibel. Kalau tidak paham akan hal tersebut, jangan coba-coba bisa menjadi pemimpin. Jadi, pahamilah setiap zaman itu pasti ada bedanya dan pelakunya. Jangan pernah ngotot untuk bisa terus memimpin di zaman yang sudah bukan zamannya lagi. Sesungguhnya, itu sama saja omong kosong. Saya saja menyadari kalau sudah bukan zaman saya lagi memimpin dengan tipikal dan cara saya di zaman sekarang. Sudah saatnya alih generasi. Saya legowo akan hal ini.

Sekarang Azrul ikut di Jawa Pos. Pendapat Anda?

Ya, begitulah.

Azrul jadi pemimpin Grup Jawa Pos?

Hmmm… sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita dan menginginkan Azrul bergabung dan bahkan menjadi pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya lebih senang dia menjadi profesional atau menjadi sesuatu yang dia inginkan. Saya tidak mau dia menderita seperti saya. Apa sih kayanya jadi wartawan itu? Makanya, sejak lulus SMP, dia saya sekolahkan ke Amerika Serikat supaya jauh dari “bau tintaâ€. Di AS kan dia lebih punya banyak pilihan. Saya menyadari sepenuhnya sejak dini kalau saya memang tidak mau menyiapkan Azrul sebagai pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya tidak mau dikecam dan anak saya dikecam karena tindakan nepotisme itu.

Namun, akhirnya Azrul masuk juga di Jawa Pos …

Sepulang dia dari Kansas, AS, tahun 1999, sebagai master international marketing, dia datang kepada saya meminta bekerja di koran Jawa Pos. Saat itu saya masih menjadi Dirut Jawa Pos. Saya jawab saja, gak mungkin kamu bisa kerja di sini. Azrul heran dengan pernyataan saya itu, lalu dia membalas pernyataan saya kalau dia tidak dibolehkan kerja di Jawa Pos, dia akan bekerja di Kompas. Waduh bingung kan saya dan saya merasa dipojokkan dengan pernyataan Azrul yang mau kerja di Kompas kalau tidak diizinkan bergabung dengan Jawa Pos. Saya berada di posisi sulit. Paling sulit dalam kehidupan saya. Saya diskusikan dengan kawan-kawan petinggi Jawa Pos. Saya tahu hal ini bertentangan dengan hati nurani saya, dan melanggar prinsip manajemen.

Bagi saya, sangat sulit memutuskan menerima Azrul bekerja di Jawa Pos. Saya tahu saya sudah berupaya menjauhkan Azrul sedemikian rupa dari bau tinta Jawa Pos, tapi kalau ternyata dia masih mau dan memilih untuk dekat dengan bau tintanya Jawa Pos, saya anggap itu sudah takdir Azrul. Bahwa akhirnya dia ada di Jawa Pos, ya takdir Azrul. Sampai-sampai saya membujuk dia untuk bergabung di JTV saja dulu, biarpun bukan koran Jawa Pos, kan masih Grup Jawa Pos. Tapi dia tetap tidak mau dan tetap ingin masuk di koran Jawa Pos. Akhirnya, ya iyalah, daripada di Kompas karena gak enak kan, masa kerja di kompetitor. Apalagi Azrul sangat optimistis dan percaya diri kalau dia bisa diterima di Kompas dengan background pendidikan formal dan pengalaman jurnalistiknya di koran orang tua angkatnya waktu tinggal di Kansas. Dia pun sering menjadi koresponden luar negeri Jawa Pos. Saat itu, memang dia diizinkan menjadi koresponden Jawa Pos karena tidak ada ikatan karyawan.

Bagaimana prosesnya?

Azrul memulai sebagai wartawan. Ketika diterima bekerja di Jawa Pos, dia juga harus menjadi reporter lebih dulu biarpun dia pernah menjadi koresponden Jawa Pos selama tiga tahun. Selama setahun, dia menjadi reporter dan ditempatkan di Surabaya. Kemudian menjadi redaktur untuk desk olah raga setahun, redaktur desk kota setahun, lalu redaktur anak muda satu tahun, terus redaktur halaman 1 satu tahun. Setelah proses itu baru deh dia menjadi pemred selama dua tahun. Jadi, kata siapa dia dengan mudahnya begitu saja diterima jadi wartawan Jawa Pos. Apalagi dia juga mendapat penilaian yang sama seperti wartawan Jawa Pos lainnya karena ada sistem penilaian yang harus dipatuhi.

Bagaimana meminimalkan kesan nepotisme?

Apa yang saya lakukan untuk meminimalkan kesan nepotisme antara saya dengan anak saya? Pertama, ya Azrul harus mau memulainya lagi dari posisi terbawah meski dia punya pengalaman jurnalistik di tempat lain. Kedua, dia juga punya nilai lebih baik dari kawan-kawan selevelnya bahkan dari kawan-kawan di Jawa Pos. Dan, dia dinilai oleh sekelilingnya. Kalau rata-rata orang terbaik saya di Jawa Pos itu nilainya 7,5, nilai Azrul harus lebih dari 7,5 itu. Misalnya hasil penilaian Azrul itu juga 7,5 atau 8, maka saya tidak akan memilih Azrul. Saya lebih baik memilih karyawan Jawa Pos yang bukan anak saya yang punya nilai sama dengan Azrul untuk menjadi pemimpin. Artinya, Azrul harus bisa menunjukkan kemampuan yang lebih dari rata-rata nilai karyawan-karyawan terbaik saya.

Bagaimana proses penilaiannya?

Untuk menilai prestasi seseorang di koran kan mudah. Ketika dia jadi reporter, berita-berita hebat seperti apa yang sudah dia berhasil cover dan tembus. Kemudian, ketika dia menjadi redaktur, dilihat bagaimana isi halaman desk yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika dia jadi redaktur pun, akan terlihat bagaimana relationship-nya dengan wartawan lain di Jawa Pos dan dengan wartawan dari media-media lain. Berita-beritanya berbobot dan netral atau tidak. Apalagi ketika dia menjadi pemred, termasuk terobosan-terobosan yang bisa dia lakukan yang akhirnya berujung pada peningkatan penjualan atau tiras dan pendapatan di samping konten koran itu sendiri.

Akhirnya Anda memutuskan Azrul menjadi pengganti Anda?

Saya memutuskannya menjadi pemred ketika Azrul membuat terobosan-terobosan seperti dia melahirkan konsep DetEksi yang berpengaruh pada peningkatan tiras, citra, dan penjualan Jawa Pos. Dia punya ide kreatif dan berhasil diwujudkannya. Ketika dia menjadi redaktur kota, dia berhasil mengubah tampilan halaman desk kota menjadi sangat metropolis sehingga Jawa Pos semakin dikenal bukan hanya sebagai koran lokal dari Surabaya. Ketika dia menjadi redaktur olah raga, dia melahirkan konsep sportivo. Ketika dia menjadi redaktur halaman 1 dan saat itu ada bom Bali, dia berhasil membuat liputan yang deep mengulas tentang bom Bali. Dan, pastinya, keberhasilan Azrul itu bukan hanya prestasi Azrul karena dia punya tim biarpun ide itu berasal dari dia. Ketika Azrul ditetapkan menjadi Pemimpin Umum setara Dirut Jawa Pos, Azrul dua poin lebih unggul dari kandidat yang lain. Jadi, bukan semata-mata dia anak saya. Toh, Azrul pun saat menjadi dirut pernah saya pecat.

Mengapa?

Sebetulnya, pemecatan Azrul itu tidak terkait dengan pekerjaan dan posisi Azrul di Jawa Pos. Ada urusan pribadi, yang tidak ada hubungannya dengan Grup Jawa Pos sama sekali, Azrul saya berhentikan sementara. Kalau dia orang lain, mungkin tidak akan diberhentikan karena masalah itu baru hanya rumor belaka. Nah, karena Azrul anak saya, saya putuskan untuk diberhentikan sampai penyelidikan atas kebenaran rumor tersebut. Ternyata setelah penyelidikan yang berlangsung 6 bulan, itu hanya rumor, dan kawan-kawan di Jawa Pos meminta Azrul kembali. Saya perhatikan selama 6 bulan nganggur dari Jawa Pos itu, Azrul tidak bersikap negatif. Dia tetap meliput dan menulis serta mengirimkan tulisannya dari luar kantor Jawa Pos. Dia tidak berkantor selama penyelidikan berlangsung. Kan bisa saja dia ngambek, namanya anak muda, wong gak salah kok, cuma rumor, dia diberhentikan. Dia bisa saja menuntut hal tersebut pada saya. Tapi, sepertinya dia gak beban dalam menghadapi cobaan itu.

Hikmah saya berobat, saya bisa lebih rileks dan perusahaan baik-baik saja. Sakitnya saya juga yang membuat saya berpikir untuk melepaskan semua jabatan saya.

Ketika Azrul menjadi Kepala Pemasaran dan Produksi, sistem pemasaran dan produksi koran jadi lebih sistematis. Dengan kata lain, Azrul jauh lebih sistematis, efisien dan efekif. Dan, saya rasa memang sudah saatnya Grup Jawa Pos itu berubah, dari yang awalnya di masa saya yang bisa disebut kelompok perintis itu banyak menggunakan pendekatan personal. Nah, di zaman Azrul dan anak-anak yang lebih muda lagi, Grup Jawa Pos sudah mulai dikelola dengan sistem yang rapi, tertib, tertulis, dan akuntabel. Ya kalau kata orang pintar, lebih GCG-lah (Good Corporate Governance – Red.) dan lebih terstruktur. Tapi, sifat egaliternya dan sederhana dalam berpakaian yang kasual itu juga nurun dari saya, padahal saya tidak pernah mengajarinya begitu.

Apa harapan Anda pada kepemimpinan Azrul?

Kelebihan Grup Jawa Pos di bawah kepemimpinan yang sekarang, kalau saya perhatikan, lebih sistematis dan metodologis. Azrul berada di dalam era kepemimpinan yang sekarang. Nah, yang saya harapkan dari Azrul itu lebih memahami perhitungan akuntasi keuangan perusahaan dengan cara belajar lagi.

Bagaimana dengan putri Anda, mengapa tidak bergabung?

Anak saya yang lain yang bernama Isna itu memang benar-benar tidak bergabung dalam bisnis keluarga. Isna punya perusahaan sendiri, butik atau toko pakaian. Kalau tidak salah ada tiga butik. Dia juga punya bisnis penyewaan peralatan musik dan sound system. Isna sih boro-boro punya passion bergabung dengan Grup Jawa Pos.

Bagaimana Anda mendidik putra-putri Anda, dalam kehidupan ataupun bisnis?

Saya tidak pernah menasihati anak-anak secara langsung. Tidak pernah mengarahkan mereka harus seperti apa. Tidak. Saya biarkan mereka berpikir dan berbuat sesuai dengan keinginan mereka. Sepanjang hidup saya sampai sekarang, saya hanya bicara dua kali tentang wisdom pada anak saya. Itu pun saya sampaikan dengan bercerita.

Pada kesempatan pertama, saya ceritakan pada mereka tentang Surabaya Post. Ini koran sangat besar pada masa itu. Bahkan Jawa Pos tidak ada apa-apanya. Saya bilang kerajaan ini runtuh karena tidak ada yang mau melanjutkan. Anaknya yang pertama, Iwan Jaya Aziz, terlalu pandai. Tiap kali disuruh pulang selalu menolak, karena di kampusnya pangkat dia selalu naik. Dia juga menjadi tokoh ekonomi yang besar. Anaknya yang kedua di Jakarta, menjadi psikolog. Sementara anaknya yang ketiga tukang menghabiskan uang. Kerajaan Surabaya Post runtuh karena tidak ada yang melanjutkan.

Saya menyampaikan ini bukan bermaksud memengaruhi mereka. Biar saja mereka yang memutuskan. Tetapi saya mau menunjukkan kalau ada kasus seperti ini.

Lalu, saat anak saya lulus dari SMA di Kansas, AS. Waktu itu saya undang mereka berdua untuk makan malam sangat spesial. Saya katakan kalau saya mau berterima kasih kepada mereka. Saya katakan kepada mereka, saya undang Anda makan karena ingin berterima kasih. Karena, selama ini Anda tidak merepotkan saya. Seandainya Anda terlibat narkoba, tentu saya harus berurusan dengan polisi. Saya juga tidak bisa bekerja. Kalau Anda terjerat narkoba mungkin saya juga akan “habisâ€. Kedua, Anda tidak menghamili anak orang. Tidak menyakiti cewek lain. Saya katakan seperti itu kepada anak-anak saya. Saya ingin dengan bercerita, tidak secara langsung mengarahkan anak-anak. Mereka juga akan merasa kalau apa yang mereka lakukan selalu saya perhatikan.

Bagaimana Anda melihat kehidupan?

Saya melihat orang tua saya bekerja terlalu keras. Jadi mungkin secara tidak sadar saya melihat orang hidup ya seperti itu. Misalnya, bapak saya habis sembahyang Subuh terus ke pekarangan. Jam 7 dia berangkat menjadi tukang kayu. Lalu pulang sembahyang Dzuhur, ke pekarangan lagi. Selanjutnya kembali nukang kayu. Dan setelah sembahyang Isya, dia ke pekarangan orang lain untuk menjaga air dan sebagainya. Nah, secara tidak sadar saya menilai bapak bekerja terlalu keras. Dan ini menginspirasi saya dalam menjalani kehidupan. Saya percaya pada hidup. Itu saya istilahkan sunatullah, bahwa orang mau dapat itu harus kerja. Kalau mau sukses harus kerja keras.

Seberapa sering Anda gagal?

Pertanyaan menarik. Karena saya lebih senang bicara soal kegagalan. Sebab orang kalau sudah sukses, ngomong apa saja enak. Sebenarnya ini tidak fair. Saya sering diminta mengisi seminar untuk berbicara sukses saya. Saya merasa tidak begitu-begitu juga. Karena, saya mengalami kegagalan juga banyak banget. Tapi saya tidak pernah diundang seminar dengan topik kisah-kisah kegagalan Dahlan Iskan.

Padahal, kegagalan saya banyak sekali. Misalnya, provider Internet. Saat belum banyak orang masuk Internet, saya masuk duluan. Karena terlalu dini kami masuk ke bisnis itu, ya kami gagal. Koran ada juga beberapa yang gagal. Real estate, saya gagal. Kemudian masuk ke hotel, saya gagal. Properti saya gagal. Saya kira kalau Rp 5 miliar saja kegagalan saya itu ada. Tetapi karena banyak yang berhasil, orang lantas menilai Dahlan Iskan itu orang yang bertangan dingin. Apa saja yang dia pegang pasti jadi. Itu sama sekali tidak betul.

Tip supaya sukses dalam berbisnis?

Ketika memulai bisnis, ketika mau memulai harus tahu apa escape yang harus dilakukan kalau menghadapi masalah yang berbahaya. Misalnya, rugi Rp 10 miliar masih lebih baik daripada rugi Rp 15 miliar. Rugi Rp 15 miliar harus lebih baik ketimbang rugi Rp 20 miliar. Itu harus menjadi pegangan. Nah, ketika sudah rugi-rugi-rugi dan sesudah dianalisis investasinya ini akan rugi terus, ya berhenti.

Banyak orang yang tidak berani berhenti. Wah, kita kan sudah rugi Rp 10 miliar. Kenapa harus berhenti? Ah, tidak boleh seperti itu. Kalau memang diperkirakan tidak tertangani harus berhenti. Jangan bilang, sayang kan sudah habis Rp 10 miliar. Harus berani bilang, mumpung masih Rp 10 miliar, harus berhenti.

Kalau mau sukses, harus jalani apa yang ada. Mulai dari kecil, sekarang, jangan nunggu nanti-nanti. Fokus. Jangan berpikir ingin cepat besar. Yang penting tekuni dahulu sampai batas waktu tertentu, baru mengembangkan diri.

Nilai-nilai bisnis apa yang Anda pegang?

Banyak orang salah sangka memandang Dahlan Iskan. Orang berpikir kalau saya punya grand plan. Menurut saya tidak. Saya ini benar-benar seperti air yang mengalir, tetapi kalau bisa yang deras. Jangan air yang mengalir tapi biasa saja. Karena apa? Saya pikir saya ini tidak punya cita-cita. Hahahaha…. Tapi setelah saya rasa-rasakan, beruntung juga tidak punya cita-cita. Hehe… Kenapa? Karena tidak terlalu mempertaruhkan segala sesuatu untuk mewujudkan cita-cita itu.

Orang yang tidak punya cita-cita lebih fleksibel. Bayangkan misalnya saya harus sampai di sana, dan itu harus tercapai. Lalu di depan sana tiba-tiba ada dinding. Kalau orang yang punya cita-cita keras, dia akan tabrak dinding itu. Iya kalau dindingnya kalah. Lha kalau dindingnya terlalu kuat? Mati dia.

Tapi kalau orang yang gak punya cita-cita, bilang wah di depan ada dinding. Ya belok aja. Misalnya di sana ada batu, ya belok aja. Jadi saya merasa tidak punya cita-cita itu ya bagus juga. Hahahaa…. Ini saya serius. Tidak mengada-ada.

Cita-cita tertinggi Anda, apa?

Hahahaha… Cita-cita tertinggi saya cuma satu: pengen punya sepeda! Itu saja. Bahwa sekarang punya helikopter, punya Jaguar, punya Mercy itu sama sekali di luar cita-cita saya. Cita-cita saya cuma punya sepeda. Kenapa? Karena saya anaknya buruh tani. Saya tidak boleh latihan naik sepeda. Berarti saya harus meminjam sepeda teman. Bapak saya bilang, “Kalau nanti sepedanya rusak, bagaimana cara menggantinya?†Jadi sampai saya tamat SMA, saya belum punya sepeda. Saya sekolah jalan kaki pergi-pulang 12 km. Teman saya yang punya sepeda tidak pernah mau memboncengkan saya. Katanya, orang yang tidak bisa naik sepeda lebih berat kalau diboncengkan.

Keinginan Anda yang belum tercapai?

Saya sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi. Karena sejak saya sakit, kemudian perusahaan ditangani oleh anak saya. Dan selama saya tinggal tetap berkembang, berarti ya sudah boleh ditinggal. Sebelum saya dioperasi, saya kan membeli dua helikopter. Karena perasaan saya, setelah sembuh pasti tidak bisa ke mana-mana. Jadi bisa naik helikopter. Tapi ternyata setelah operasi saya seperti begini. Ya akhirnya helikopter itu nganggur. Makanya ketika saya dipanggil Presiden untuk menjadi Dirut PLN, ya sudahlah, ada kesibukan baru.

Nilai dalam kehidupan yang Anda pegang?

Saya percaya takdir. Tetapi takdir yang diusahakan. Jadi saya tidak percaya takdir begitu saja. Misalnya begini. Ada seorang wartawan foto Jawa Pos yang jadi juara foto internasional. Foto itu tentang tergulingnya truk suporter sepak bola. Orang-orang bilang, “Itu kebetulan karena si fotografer ada di situ, terus motret.†Nah saya tidak setuju dengan omongan seperti itu. Memang kebetulan dia ada di situ. Tapi seandainya hari itu si wartawan ada di kantor, atau males-malesan di rumah, apa ya dia dapat momen itu? Dia dapat foto terbaik dunia itu karena dia rajin.

Siapa tokoh idola Anda?

Saya senang Eka Tjipta Widjaja. Dia pernah bangkrut tiga kali. Bangkrut habis-habisan dan selalu bisa bangkit dengan hebat. Sebelum saya sakit, saya nanya ke beliau, “Pak Eka, Anda kebayang nggak akan bangkrut?†Lalu dia bilang, “Dik Dahlan, saya ini sudah dalam posisi tidak mungkin bangkrut. Saya sudah terlalu besar untuk bangkrut.â€

Saya juga senang Ciputra karena menjalankan prinsip bisnis yang fair. Moralitas bisnis beliau juga sangat tinggi. Saya salut sekali dengan Pak Ciputra. Lalu, kerendahan Anthony Salim juga membuat saya kagum. Ketiga tokoh ini mungkin yang banyak menginspirasi perjalanan hidup dan bisnis saya.

BOKS:

Azrul Ananda:

Di Luar Jawa Pos,

Mungkin Lebih Enak

Perjalanan Azrul Ananda yang akrab disapa Ulik ini di GJP tak berarti mulus karena ia anak Dahlan Iskan. Apalagi, sejak awal Dahlan tak ingin putra semata wayangnya mengikuti jejaknya sebagai kuli tinta. Dahlan juga tak pernah berpikir mewariskan kerajaan bisnis GJP kepada anak sulungnya itu. Namun, bagi Ulik, GJP adalah muaranya untuk beraktualisasi.

Maka, Ulik pun rela mengikuti aturan main yang diterapkan sang ayah. Ia rela memulai karier di GJP dari posisi bawah. Ia juga menjawab tantangan Dahlan yang mensyaratkan nilai 9 baginya dengan kerja keras, kreativitas, dan inovasi untuk melahirkan produk yang membuat Jawa Pos makin moncer. Dari tangan alumni California State University jurusan pemasaran yang lulus cum laude ini lahir halaman DetEksi, seksi khusus anak muda yang dalam tempo singkat menjadi andalan Jawa Pos sampai sekarang. Kelahiran Samarinda tahun 1977 ini pun membuktikan kehebatannya yang lain. Saat menjadi Pemred Jawa Pos, koran itu berlari makin kencang dan kerap diganjar berbagai penghargaan, antara lain Cakram Award (Newspaper of the Year) 2005.

Berikut petikan SWA dengan Azrul Ananda yang kini COO Jawa Pos.

Apa saja nilai-nilai dalam bisnis dan kehidupan yang Anda pelajari dari ayahanda?

Abah, (begitu Azrul memanggil Dahlan Iskan) dari dulu selalu mengajari saya: bekerja, dan bekerja secara fokus dan serius tanpa terlalu memikirkan apa yang akan didapat. Jangan terlalu perhitungan. Katanya, kalau kita kerja keras dan fokus, hasil baik akan datang dengan sendirinya. Sejauh ini, semua itu menjadi kenyataan.

Bagaimana Anda mengimplementasi nilai-nilai itu dalam aktivitas bisnis dan kehidupan? Adakah nilai yang direaktualisasi – disesuaikan dengan kondisi masa kini?

Dari dulu, apa pun yang saya lakukan, selalu dilakukan dengan serius. Kalau pun gagal, prosesnya selalu serius. Paling tidak, ada pelajaran yang selalu kita dapat dengan menjalani proses secara serius. Bedanya cara dia dengan saya sekarang? Hmmm, sekarang lebih sulit dan kompetitif, jadi kerjaan saya pasti lebih susah dari dia dulu. Hahahaha. Tidaklah, dulu dan sekarang sama sulit, tapi sulitnya beda.

Adakah perbedaan chemistry dalam memandang nilai-nilai itu antara Anda dengan ayah Anda?

Saya tidak persis dengan Abah. Dia punya satu cara, saya mungkin cara lain. Kadang kami pun berantem teriak-teriakan. Hahahaha. Tapi hebatnya Abah, dia selalu memberi saya kebebasan dalam berbuat. Kalau pun saya salah, dia akan membiarkan saya membuat kesalahan. Toh akhirnya akan belajar juga hahaha.

Dalam pandangan Anda, apa saja kehebatan yang dimiliki Pak Dahlan sebagai ayah sekaligus entrepreneur?

Dia itu orangnya serius dan konsekuen. Kalau mau sesuatu, akan diusahakan sampai dapat. Tapi dengan cara yang benar. Tidak dengan jalan pintas. Kalau harus bersusah payah naik gunung, ya akan bersusah payah naik gunung. Tidak buru-buru cari helikopter biar gampang. Memang cara-caranya kadang lebih susah, tapi jangka panjangnya akan lebih baik.

Bagaimana Anda dididik oleh ayah Anda? Apa yang diinginkan ayah Anda terhadap anak-anaknya?

Entahlah. Hahaha. Kayaknya dia dulu nggak pengen saya masuk koran. Tapi akhirnya kecemplung juga di dunia media. Yang jelas, dia ingin kami sukses dengan kerja keras, bukan dengan cara karbitan. Dia selalu mengingatkan, kalau nilai saya 7 maka lebih baik memakai orang lain. Kalau nilai saya 8, dan ada orang lain nilainya 7 maka lebih baik pakai orang lain. Jadi, mau tidak mau saya harus menang jauh dari yang lain, harus punya nilai 9 atau 10. Karena kalau saya biasa-biasa saja, orang akan menilai saya sukses karena ayah saya.

Kenapa Anda punya passion yang tinggi terhadap olah raga basket?

Sebenarnya olah raga favorit saya bukan basket. Saya ini pemain bola, dan olah raga terbaik saya bulu tangkis. Saya dulu tergabung dengan klub Djarum selama tiga tahun, waktu SD sampai SMP. Tapi ketika jadi siswa pertukaran di Ellinwood High School di Kansas tahun 1993-1994, saya ikut koran sekolah dan jadi fotografer tim basket. Dari situ belajar sistem basket SMA di Amerika. Sejak saat itu mulai perhatian pada basket. Belum penggemar, tapi mulai mengikuti.

Keterlibatan di basket juga tidak direncanakan. Pada 2004, untuk menambah aktivitas anak muda di bawah bendera DetEksi Jawa Pos (halaman khusus anak muda), kami spontan bikin kompetisi basket SMA di Surabaya. Ternyata langsung meledak. Terus berkembang, dan kemudian berkembang jadi Development Basketball League (DBL) yang sekarang.

Mengapa meledak? Mungkin karena konsepnya disukai ya. Kami menerapkan konsep student athlete, kalau tidak naik kelas tidak boleh ikut. Sekolah dan orang tua suka itu. Lalu kami juga ketat menerapkan aturan-aturan di lapangan, jadi pemain dan penonton merasa lebih spesial. Juga tidak menerima sponsor rokok, minuman berenergi, dan minuman beralkohol. Kami konsekuen hingga sekarang.

Untuk kompetisi bola basket pelajar tahun lalu, berapa banyak peserta dan penontonnya? Tahun ini, apa targetnya?

Honda DBL 2010 ini diselenggarakan di 21 kota, di 18 provinsi. Mulai Aceh sampai Papua, kecuali Jakarta. Kami berhasil membuktikan bahwa kompetisi terbesar di Indonesia tidak harus di Jakarta. Total tim peserta hampir 1.200 tim SMP dan SMA, dengan jumlah pemain dan official hampir 25 ribu orang. Besar sekali ya! Simulasi kami, seharusnya jumlah penonton mencapai 500 ribu orang. Tercapai kira-kira awal Agustus 2010 nanti. Kalau terwujud, Honda DBL 2010 adalah kompetisi olah raga terbesar kedua di Indonesia, setelah liga sepak bola nasional. Hebat ya?

Targetnya sekarang, mengejar 500 ribu penonton itu. Seharusnya bisa. Dan ingat, pertandingan kami bukan tontonan gratis. Kami dari awal mengajarkan penonton untuk apresiasi dan membayar. Target ke depan, terus mengembangkan konsep student athlete kami ke seluruh provinsi di Indonesia.

Apa dream Anda terhadap olah raga basket di Indonesia? Akan Anda jadikan seperti apa DBL dalam 5-10 tahun ke depan?

Terus terang, kami tak pernah membayangkan DBL menjadi sebesar ini. Saking besarnya, sejak 2009 kami harus mendirikan perusahaan sendiri untuk mengelola DBL secara full time. Namanya PT Deteksi Basket Lintas Indonesia (DBL Indonesia) karena untuk menjaga dan mengembangkan, butuh tim yang bekerja full time. Sekarang karyawan DBL Indonesia sudah lebih dari 50 orang.

Bukan hanya mengelola liga pelajar DBL, mulai tahun ini DBL Indonesia juga dipercaya mengelola liga basket profesional tertinggi di Indonesia, yaitu Indonesian Basketball League (IBL). Pada 25 Mei 2010, liga itu kami rebranding menjadi National Basketball League (NBL) Indonesia. Semoga jadi seheboh DBL.

Dalam 5-10 tahun ke depan, semoga DBL bisa merambah seluruh Indonesia. Menyelenggarakan kompetisi basket dengan standar tertinggi di Indonesia. Selain itu, juga terus membina kerja sama internasional. Gunanya untuk meningkatkan hubungan people-to-people antara anak muda Indonesia dengan mancanegara. Sekarang kami sudah menjalin itu dengan Amerika Serikat dan Australia. Untuk mencapai itu, DBL harus tumbuh secara berkelanjutan. Tidak boleh terlalu tergantung pada sponsor.

Ke depan, revenue sponsor maksimum hanya boleh 65%. Sisanya harus dari tiket penonton, merchandising, licensing, dan lain-lain. Kami sedang merintis itu sekarang. Merchandise DBL sudah bisa didapat di mal-mal di Indonesia, termasuk di Jakarta. Buku tulis sekolah DBL pun sekarang sudah dijual di mana-mana. Jangan lupa pula, semakin besar DBL dan NBL, semakin besar pula dampaknya untuk media-media di bawah Grup Jawa Pos.

Anda sepertinya menikmati sekali di Jawa Pos?

Saya sebenarnya tidak perlu ada di Jawa Pos untuk hidup enak. Di luar Jawa Pos mungkin lebih enak. Tidak capek, tetap dapat bagian banyak dari orang tua. Bahkan lebih banyak dari kebanyakan karyawan. Karena itulah, ketika benar-benar di Jawa Pos, saya harus sadar kalau saya punya tanggung jawab sangat besar. Tidak boleh main-main. Saya nyaris tak pernah libur. Dari pagi sampai malam saya di kantor. Meski kadang juga hanya bengong doang hahaha.

MEMERANGI KANKER PROSTAT

Posted on


Penderita kanker prostat  stadium awal tidak menunjukkan gejala.  Gejala mulai dirasakan saat sel kanker menyumbat saluran kencing. Ditandai dengan kesulitan memulai kencing, meningkatnya frekuensi kencing, nyeri saat kencing, dan pancaran kencing lemah  atau hanya menetes. Selanjutnya kandung kencing terasa penuh  walaupun baru saja kencing, karena urine tidak keluar dengan sempurna. Juga ditemukan darah dalam air kencing, nyeri saat ejakulasi, dan timbul impotensi. Kanker dapat menyebar ke jaringan tubuh lainnya terutama tulang dengan gejala umum nyeri tulang.

Kanker ini biasanya menyerang pria di atas 50 tahun, ada penderita dalam riwayat keluarga,  paparan logam kadmium, obesitas, berkebiasaan makan menu tinggi lemak, perokok, dan peminum. Kanker ini menyerang kelenjar kecil yang terletak di bawah kandung kemih  pria. Kanker prostat penyebab kematian pada pria, terutama pria diatas 74 tahun. Jika sudah menunjukkan gejala, dalam tes diagnosa akan dilakukan pemeriksaan rektum, pemeriksaan darah,  sebagian kecil jaringan dari kelenjar prostat diambil dan diperiksa di bawah mikroskop, CT atau MRI scan dilakukan, scan tulang juga dilakukan untuk melihat apakah tulang sudah terkena.

Ada beberapa alternatif pengobatan. Pertama, pembedahan dengan mengangkat seluruh kelenjar prostat dan jaringan di dekatnya. Kedua, terapi radiasi atau penggunaan sinar berenergi tinggi pada kanker. Ketiga, menghambat produksi hormon seks pria untuk mengontrol pertumbuhan kanker dengan terapi hormon atau pengangkatan kedua testis.

Untuk pencegahannya, seorang pria harus memiliki gaya hidup sehat, pola makan seimbang, dan tidak merokok. Hindari mengkonsumsi daging merah,  lemak dan minyak  berlebihan. Lebih baik memperbanyak konsumsi buah dengan kadar serat dan antioksidan tinggi, minum banyak air putih, menjauhi alkohol, mengkonsumsi makanan dengan kandungan selenium dan vitamin E, mengurangi stres, dan berolahraga teratur. Jika merasakan adanya gejala, hendaknya segera berkonsultasi pada dokter. Deteksi dini perlu dilakukan pria berusia di atas 50 tahun dengan melakukan pemeriksaan Prostate Specific Antigen dan pemeriksaan Digital Rectal Examination setahun sekali. Masturbasi dan hubungan seksual dapat melindungi dari kanker prostat sebab ejakulasi memungkinkan keluarnya cairan sperma yang mungkin bersifat karsinogenik.

Beberapa bahan pangan yang dianjurkan untuk pencegahan kanker prostat antara lain jus delima dan manggis yang kaya antioksidan, sereal (gandum utuh, oat dan bekatul) yang mengandung protein berkualitas,  sayuran dan buah (brokoli, kubis brussel, kol, kembang kol, apel, buah beri, melon, tomat dan semangka) yang mengandung banyak fruktosa dan lycopene pencegah kanker, minyak gandum dan biji labu yang kaya mineral seng, kedelai dan bawang putih yang mengandung genisten penghambat pertumbuhan kanker, dan bawang putih yang mengandung sulfur pelawan kanker.
[rg@2012]